Senin, 10 Oktober 2011

INTELEKTUAL ITU DIKEPALA BUKAN DIKAKI

“Intelektualitas itu ada di kepala, di otak, bukan dikaki”. Ini bukan kalimat saya, hanya teringat ucapan lazim oleh para mahasiswa waktu dikampus dulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, sebuah kampus Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UI.  Kalimat ini menjadi ungkapan umum yang dipergunakan mahasiswa yang kekampus suka memakai sendal jepit. Ya, masuk ke ruang kuliah dengan sendal jepit untuk mengikuti pelajaran.
Jika ada dosen yang stricht, jeli, disiplin, atau apapun sebutannya, tentu masalah alas kaki ini masalah besar. Diusir dari dalam kelas, satu dua kali terjadi. Tapi mahasiswa pintar (tidak dikaki eh?) dengan mengetahui “karakter” dosen, si sendal jepiters ini tau, kapan bersendal jepit, kapan bersepatu. Tergantung dosen dan matakuliah. Atau, kapan bersendal jepit.. dan telat, serta kapan bersendal jepit (teteep) dan duduk manis ditengah2 kelas (nyaru nih ceritanya) biar gak ketauan pakai sendal. plus, tentu, masuknya paling awal.
To be honest, i was one of them. Alasan saya simpel.Gampang kalau mau Sholat di Mushola. Gak takut sepatu ilang. Gak takut juga kaki bau jempol karena jemari selalu menikmati udara hehe.. Selain itu, saya selalu bawa-bawa sepatu loh di tas. Artinya, masuk kelas sih biasanya pakai sepatu lah.. kecuali asdos or dosen yang cuek atau udah kenal “otak” saya daripada “kaki” saya. Iya. Otak saya yang juga bego. hehe.. bukan pinter. Di FISIP, awal-awal tahun 2000 itu, banyak gerakan bersendal. Selain Sendal jepit, ada sendal gunung yang dipakai teman-teman Ikhwan, dan teman-teman Mapala, alias anak gunung tentunya. Hmm tapi, saat ini sih, pas saya jalan2 ke UI, ke FISIP, kayaknya udah ga ada lagi deh pemakai sendal jepit alias sendal jepit-ers. Gud gud gud..
Lalu, sejak kapan sih mahasiswa pakai sendal jepit? Hmm.. kalau kata beberapa dosen, sejak ANTROPOLOGI masuk FISIP dari Sastra (Sekarang FIB) hehe.. it’s true, itu yang saya dengar langsung. Artinya, mahasiswa sastra lah pencetus gerakan sandal jepit ke kampus.  Itu kata dosen-dosen loh. Entah bercanda atau tidak, tapi dari sini saya tanya2 oh ternyata benar begitu sejarahnya hihi.. dari Antropologi, menjalar ke Sosiologi. Dua jurusan ini paling banyak sendal-ers pada waktu itu. Sisanya ikut2an karena berbagai faktor, terutama, bagi saya, yang jurusannya rada “serius” dan keluar dari “trah” FISIP, namun kebanyakan bergaul dengan sendal-ers, kuncinya adalah “kenyamanan”. Hehe..
Nah, kembali ke bagian Intelektualitas, Pendidikan dan Sendal Jepit.
Apakah salah ucapan mahasiswa mengenai intelektualitas tidak diukur dari sendal jepit? Tidak juga. Bayangkan, dulu pas jaman Sekolah Rakyat (SR) kakek kita juga nyeker. Saat ini, realita pendidikan di desa-desa tertinggal dan biasanya di daerah timur negeri yang katanya kaya ini, adalah anak-anak bersekolah dengan telanjang kaki. Apakah mereka bodoh? tidak.  Tapi ini ngeles dot com deh.. masalahnya, orang tidak bersepatu karena TIDAK SANGGUP BELI. Bukan malas. hehe.. so, salah dong mahasiswa? Ya salah. bayangkan saja kalau kamu Dosen, mahasiswa pakai sendal, kira-kira sepertinya melecehkan bukan? Yup. benar. Dan sayangnya, saya baru saja menyadari ini sejak saya mengajar alias menjadi dosen! Duh, nyesal dan pengen minta maaf. Tapi, ada enaknya juga sih hehe.. (masa lalu..) don’t try this at home ya!
Tapi emang benar argumen teman-teman waktu itu –maklum kuliah di FISIP pasti jago-jago ngeles hehe– katanya, ukuran hal itu layak atau tidak layak, pantas atau tidak ‘kan budaya. Budaya dibentuk. Hasil cipta rasa dan karsa. Sebenarnya mungkin di tempat lain atau bahkan di FISIP sendiri bisa saja “dibudayakan” bersendal jepit ria, or, lebih ekstrim, masuk kelas lepas sepatu! Hahaha.. betul juga. Inilah contoh kebanyakan belajar teori sosial dan antropologi. Tapi kalau menurut saya, dua “kubu” ini punya sudut pandang yang berbeda. Satunya sisi A, satunya sisi B. Lah, official kampus bicara bukan masalah budaya. Tapi masalah hukum. Peraturan, Nah loh.. kayaknya ini dosen Kriminologi UI yang ngomong (saya lupa). Anyway, kalau saya sih jadinya manut-manut saja. Kapan dosennya “Asyik”, ya saya asyik juga dengan Sendal. Kalau dosennya killer, saya ngga mau dong dibunuh gara-gara mempertahankan kenyamanan hehe.. Sebab, ada juga dosen bukan masalah sendal or sepatu, ngangkat kaki sebelah dan ditaroh ke atas kaki satunya lagi sembari mendengarkan kuliah bisa diusir. Nguap (ngantuk) juga diusir. Contohnya pak Gayuus Lumbuun sewaktu jadi dosen tamu di jurusan saya wakakaka.. Apalagi dengan optimisme beliau kalau para mahasiswa ini bakal jadi PNS semua dan jadi birokrat sesuai jurusannya, Administrasi Publik/Negara. Haha. Baguslah Di-doakan walau tidak sesuai kenyataan.
Ups, kepanjangan ngalor ngidulnya. Tapi benang merahnya tetap di sendal. Sendal jepit atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan kecerdasan seseorang. Lagipula, hari gini, harusnya sadar bahwa “don’t judge the book by its cover”. Itu mahasiswa (sendal jepit-ers) bilang. Apalagi dah capek2 masuk UI. Lah kan Dulu sih ujian masuk cuman sekali. Gak lulus ya ga lulus. Nyobanya tahun depan, bertapa dulu selama setahun (contohnya ya saya juga hehe..)
Lalu Mengenai yang konta dengan alasan peraturan? Wah peraturan itu produk manusia. Gampang sekali diubah. Coba kalau peraturan di Perpus dan di ruang kuliah mesti copot Sepatu sendal? Andaikata dibuat begitu, apa bedanya kamu pakai Sepatu mahal, Sepatu murah, Sendal Jepit atau Sepatu boot? Jackpot.. Jadi.. entah mengapa, balik lagi ke budaya kok. Ketika saya menjadi dosen saat ini, jujur, jengah juga lihat orang pakai sendal jepit. Apalagi praktek di depan PC. Sendal dilepas, salah satu kaku diangkat kayak di Warteg. Nah, teman-teman.. dulu kepikir ngga hahaha.. mohon maaf mas dan mbak dosen-dosen FISIP.. Tapi mungkin beda ya, kami (ya termasuk saya deh, ngaku..) dulu ngga “ngeyel’, “nantangin”, dan “belagu”. Sendal cuma atribut biar keliling kampus nyaman, sholat gak mikirin sepatu, sepatu dirumah awet, dan memang sendal dianggap sepatu, bukan sebagai sendal. Artinya tidak mentang2 pakai sendal lalu angkat kaki kemana-mana. Kalau ketemu dosen pun, diruangan jurusan misalnya, kami tidak memakai sendal. Pinjem sepatu teman, atau berdiri diluar. Ada etika juga, ada hormat. Jadi, intelektualitas tidak lantas serendah sendal jepit hehe.. setuju?
Oke. Wacana pendidikan kali ini memang ngomongin intelektualitas. Dan ngomongin sendal jepit. Untuk itu, saya punya kasus, pengalaman pribadi.  Begini ceritanya.. masih memendam hasrat berkarya di bidang pendidikan, lowongan CPNS DEPDIKNAS tahun 2009 saya ikuti. Dengan bismillah, semua formulir dan kelengkapan saya kumpulkan. Ya, disela-sela waktu ngantor diperusahaan swasta. Akhirnya, Sabtu, tiba lah hari mendebarkan.Ujian Massal Tes CPNS di Senayan. Sudah siap, dengan segala atribut kartu ujian, pensil, dan tetek bengek lainnya, pagi-pagi saya berangkat.
Sampai di lokasi, langsung cari bangku sesuai nomor. Oke, dapat. Lalu duduk. Saya baru sadar, kok banyak orang yang ngeliatin.. oala dalah.. Saya adalah satu-satunya peserta yang tidak rapi. Alias tidak pakai KEMEJA. Saya pakai apa? Yup.. Mahasiswa banget. Kaos Oblong warna itam. Celana Jeans.. dan..aha.. benar sekali. dengan BERSANDAL JEPIT cuy!
Flashback. Runut kembali peraturan.. mikir-mikir.. memang benar.. tidak ditulis syarat pakaian apapun deh! Saya lupa apa bebas sopan atau bebas rapi, tapi seputar itu deh. Kenapa ribuan peserta memakai Kemeja hihi.. Dan tidak cukup disitu, Alhamdulillah, saya buktikan, bahwa Intelektualitas tidak dilihat dari Kaki yang bersendal jepit, walaupun saya harusnya mengontak Jaya Suprana buat Rekor MURI Sebagai satu-satunya peserta Ujian CPNS yang berkaos oblong, celana jeans dan bersendal jepit! Apa itu? Alhamdulillah. Dari ribuan peserta, saya LOLOS ke tahap kedua. Tidak cuma itu, saya lagi-lagi lolos ke Tahap ketiga, menyisakan 3 orang pesaing.  PS : Saya pakai sandal jepit di Senayan aja yach, pas tes berikutnya kan sudah sadar, jadi pakai Sepatu, kemeja dan celana bahan yang rapi, klimis dan ganteng..
Dan disini pun saya tidak terlalu kecewa tidak lolos dan jadi CPNS Depdiknas. Sebab, waktu wawancara, available position nya behind desk, masalah administrasi. It didn’t fit me. Diwawancara oleh beberapa orang (dari cara bicaranya saya bisa tahu mereka berpendidikan tinggi dan berkedudukan juga tinggi) dan saya menjawab maunya posisi di lapangan. Riset, travel dst. ya kalau nggak, apa bedanya dengan kantor sekarang hehe.. itu cerita saya. Btw, udah pakai sendal jepit, saya juga kayaknya yang paling narsis.. orang2 pada serius ngerjain soal-soal CPNS, saya sempat2 berfoto-foto di arena Ujian hehe.. ya ngapain nambahin stress.. lolos ya lolos, ngga ya nggak. CPNS bukan satu-satunya jalan. Lebih baik jadi pengusaha deh.. sumpeh..  ini sedikit foto-fotonya; di picasa jika Anda tidak percaya.
Nah, sekarang pertanyaannya. Di Dunia Pendidikan, pentingkah orang pakai sendal atau pakai sepatu? Dan relevansi dan korelasinya apa dengan berhasil tidak nya si anak/siswa/mahasiwa dalam menempuh pendidikan? bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar