Sampah menjadi salah satu masalah serius perkotaan di Kota Jakarta
selain banjir dan kemacetan jalan. Pemerintah sendiri mentargetkan pada
2006 nanti masalah sampah sudah dapat diselesaikan secara menyeluruh dan
untuk merealisasikan gagasan itu dibutuhkan dana Rp 1,2 triliun.
Dana tersebut diantaranya untuk membuat mesin penghancur sampah dengan
menggunakan mesin berteknologi tinggi yang akan dipadukan dengan konsep
korporasi. Selama ini, masalah sampah di Jakarta masih ditangani di
Bantargebang, Bekasi. Hanya saja, tidak mungkin selamanya sampah akan
dibuang di sana karena lama-kelamaan sampah makin penuh sementara
tempatnya terbatas.
“Untuk itu ke depannya kita akan mencoba menerapkan teknologi tinggi
untuk menangani sampah dan terus memadukannya dengan konsep korporasi,”
jelas Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Fauzi Bowo, kemarin (18/5).
Penerapan tehnologi tinggi (incenerator) ini bisa saja mengadopsi
beberapa negara maju seperti Singapura dalam mengelola sampah. Di
Singapura, pembuangan sampah berada di tengah kota namun tidak
menimbulkan bau dan residu yang mengganggu lingkungan. Itu karena mereka
menggunakan tehnologi tinggi yang mesinnya mampu menghancurkan sampah.
Sementara itu, untuk konsep korporasi saat ini sudah diterapkan.
Maksudnya, penanganan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah,
namun harus melibatkan semua daerah. Konsep ini juga sejalan dengan
rencana pemerintah pusat yang akan membentuk korporasi antardaerah di
wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).
Pemerintah melalui Menteri Pekerjaan Umum, Joko Kirmanto telah membuat
program penanganan sampah melalui program WJEMP (West Java Enviromental
Project) dengan ruang lingkup Jawa Barat dan Jabodetabek.
Selama ini, Pemrov DKI Jakarta telah menerapkan konsep korpoasi
antardaerah dengan melibatkan Pemkot Bekasi. Teknisnya, kedua daerah
sepakat menunjuk sebuah perusahaan yang bertugas melakukan pengelolaan
sampah di Bekasi. Dan disepakati, Jakarta mengeluarkan biaya sebesar Rp
53 ribu per ton sampah yang dibawa ke Bantargebang.
Jakarta selama ini menghasilkan sampah 6 ribu ton setiap harinya.
Sebagia besar sampah diproduksi dari kalangan rumah tangga, pasar,
perkantoran dan industri. Jika tidak ada pengelolaan sampah yang benar,
maka akan menghasilkan gunung sampah yang tinggi, menjadi sumber bibit
penyakit dan membuat lingkungan yang kumuh.
Untuk segera merealisasikan proyek tersebut, kemarin Gubernur Sutiyoso
dengan jajarannya juga langsung menggelar rapat untuk membahas hal itu.
Rapat di ruang gubernur itu melibatkan Asisten Pembangunan Heri Sanjoyo,
Kabiro Administrasi Sarana dan Prasarana M. Tauhid, serta staf dari
Dubes RI di Singapura. Inti dari pertemuan itu pemaparan saja dan untuk
tindaklanjutnya akan dibahas dikemudian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar